Cangkang Sawit, Energi Alternatif Pembangkit Tenaga Listrik

Fajarpos.com
Fajarpos.com
Ilustrasi Konversi Kompor Gas ke Kompor Listrik (Koran Tempo).

Fajarpos.com – Kelapa sawit masuk ke Indonesia pada masa kolonial. Perkembangan kelapa sawit di Indonesia terhambat selama masa perang kemerdekaan. Sampai negeri ini merdeka kelapa sawit belum menjadi primadona ekspor Indonesia.

Hingga tahun 1967 pemerintah Indonesia mulai serius kembali menggarap sawit. Hasilnya selepas tahun 1980-an, Indonesia bisa menggeser posisi Malaysia sebagai penghasil sawit terbesar dunia. Pada tahun 2016 lalu, Indonesia menghasilkan sekitar 36 juta ton kelapa sawit yang menempatkan negara ini menjadi penghasil kelapa sawit terbesar di dunia.

Saat ini, kebutuhan energi listrik di Indonesia semakin meningkat seiring meningkatnya jumlah penduduk. Krisis energi listrik yang terjadi karena makin menipisnya sumber energi konvensional dan banyak pembangkit tenaga listrik di Indonesia menggunakan bahan bakar fosil sebagai bahan bakar utamanya. Solusinya dapat memanfaatkan sumber-sumber energi alternatif yang dapat menjadi bahan bakar substitusi yang ramah lingkungan, efektif, efisien serta berkelanjutan.

Salah satu alternatif energi berkelanjutan adalah dari biomas sawit. Biomas tersebut khususnya dari limbah kelapa sawit yakni cangkang dan serabut sawit yang sudah terkumpul di sekitar PKS sehingga tidak memerlukan biaya pengumpulan yang terlalu besar. Bila dikelola, limbah kelapa sawit bisa digunakan sebagai energi alternatif pengganti fosil yang bisa digunakan sebagai bahan bakar pada Pembangkit Listrik Tenaga Uap/PLTU.

Berbagai studi telah membuktikan pemanfaatan cangkang sawit sebagai bahan bakar pembangkit listrik. Harris dkk (2013) meneliti Pemanfaatan Limbah Padat dari Perkebunan Kelapa Sawit pada PLTU di Bangka Belitung. Kemudian Erhaneli dan Elsi (2017) melakukan studi yang sama pada PLTU Muara Bungo.

Jika dibandingkan bahan bakar cangkang kelapa sawit, batubara dan solar (Syafriuddin dan Rio, 2013) untuk pembangkit listrik per 10 MWh menunjukkan hal yang menarik sebagai berikut : pertama, diperlukan solar sebesar 648,82 liter atau setara dengan cangkang kelapa sawit (1,2 ton) atau setara dengan batubara (1,3 ton). Kedua, biaya yang diperlukan ternyata yang paling murah adalah cangkang kelapa sawit (Rp. 762.000) kemudian disusul batubara (Rp1.334.496,8), dan solar yang paling tinggi (Rp2.919.690. Artinya cangkang sawit merupakan bahan bakar yang paling murah untuk menghasilkan energi listrik.

Dibandingkan energi fosil, cangkang kelapa sawit merupakan bahan bakar alternatif yang murah dan berkelanjutan. Ketersediaannya tidak perlu diragukan karena luas perkebunan kelapa sawit di Indonesia sangat luas. (***)